Hilangkah sukma?
Jika daku hentikan lara
Lenyapkah raga?
Bila mentari tak lagi ada
Sekali lagi hanya harap tuk indahkan dunia
Lara ....... memang lara
Merangkai kisah yang tak lagi indah
Cukup
Dan tak lagi cukup berikan bahagia
Aku hanya lara
Dan aku hanya membekukan jeruji sukma
Hingga aku tak kuasa pergi
Tuk ukirkan lagi indahnya pelangi
Aku berlari
Mencoba menggapai seseuatu yang selalu ku nanti
Tapi
Apalah daya jika akhir diriku hanya sampai disini
Hingga aku terpuruk
Membusuk
Dan tak lama lagi pasti kan mati
Nyawaku mengerang
Nadiku tersayat parang
Sungguh luka yang membuat diriku hilang
Hancurkan tawaku dan hilangkan tenang
Ah ........
Terkadang
Sisi gelap hatiku tertawa sendiri
Kadang juga tampak menyeriangai
Hingga membuat aku takut dan ngeri
Tapi entah kenapa kau tak beranjak pergi
Bodohnya aku
Mencari-cari sesuatu yang sama sekali tak berarti
Tak dapat mengangkatku ke puncak gunung tertinggi
Untuk melihat sang bulan bernyanyi
Dan beriringan bintang-bintang liukkan tari
Entah mimpi atau nyata ?
Seseorang yang slalu ku nanti berbisik padaku
Hendaklah aku hilangkan peluh
Tak lagi menangis dan biarkan tetesan air mata jatuh
Apakah ia ?
Tapi siapa dia?
Kini ku tak lagi mengenalnya
Tak lagi ku ketahui siapa yang selalu menyanjungku dalam buai indah
Sungguh ku tak mengerti setiap isyarat darinya
Yang hanya sesakkan dada
Entahlah .........
Bukan
Bukan seperti itu
Tampaknya ia yang tak mengenalku
Apakah begitu ?
Entahlah ......
Egoku tak lagi bisa menalarnya lagi
Seluruh rasa dan jiwaku telah melayang jauh entah kemana
Kemana lagi aku kan bersanding
Beribu tuan tak lagi bisa menggelar tikarnya
Meski hanya sejenak untukku rebahkan tubuh yang lelah
Sempat berfikir untuk pergi meninggalkan semua
Hanya saja akal sehatku tak dapat menerimanya
Sekali lagi aku masih bingung
Bungung akan problema yang kubuat sendiri
Berteriak ?
Mungkin itu jalan terbaik bagiku untuk melempar gumpalan rongsokan yang selalu sesakkan ruang hatiku
Apakah itu ?
Sekali lagi terlalu banyak tanya yang hadir dalam diri ini
Hari esok kan datang
Tapi kenapa yang kemarin belum menghilang
Aku merasa terbuang jauh ke masa lalu yang suram dan tak dapat kembali ke dunia yang terang
Masa kini
Hari ini
Esok hari
Besok lusa
Dan waktu yang kan slalu ukirkan kisah dalam diriku
Akankah engkau berikan cerah dalam gelapku ?
Akankah engkau tenangkan kericuhan yang selalu mengantuiku ?
Dan apakah slalu kau lakukan ini padaku ?
Mungkin aku memang terlalu banyak bertanya
Tapi mengapa ?
Aku hanya bisa petikkan jemariku di atas papan huruf ini
Hanya sekedar untuk melegakan hati ini
Meski sedikit
Tak mengapa bagiku
Dahulu yang begitu bahagia
Atau dahulu aku yang begitu bodoh dan tertipu ?
Jahanam!
Jutaan syeitan sesatkan aku dalam keterpurukan
Taukah kau
Aku tak lagi berdaya
Kenapa engkau masih tega sesatkan aku
Mencoba menangkap lalat dengan satu jari
Bukankah itu hal yang bodoh ?
Itulah yang kulakukan
Aku tak salahkan ia
Mungkin aku yang membuat segalanya seperti ini
Menjadi hal yang sangat memuakkan
Kini cakap bahasaku tak lagi berarturan
Karna terlalu banyak hal yang menusuk hati ini
Fikirku jauh melayang
Entah apa yang terbayang
Hanya sampai disini
Setiap urat di kakiku tak lagi bisa digerakkan
Aku terhenti
Aku tak lagi bisa mengikuti liukan indah tarimu
Hanya kata maaf
Karena sungguh aku tak lagi sanggup tuk teruskan jalanku
Separuh raga ini telah membatu
Dan tak mampu lagi bisa melangkah
Biarkan aku habiskan hidupku tanpa melihat indah wujudmu
Hingga nanti
Saat Sang Pencipta ulurkan tangannya untuk menarikku ke surga
Seraya berikan bahagia untuk hambanya yang merana
No comments:
Post a Comment